Kubu-ayey, Berbagi apapun yang Pengmbang ketahui, Silahkan nikmati

Saturday, 23 February 2013

Jenis-Jenis Tari Legong


Legong Kuntul

Legong Kuntul termasuk dalam jenis Legong non-dramatik yang menggambarkan keanggunan burung bangau di tengah sawah. Setelah lama tidak ditarikan, pada tahun 70-an, tarian ini direka kembali berdasarkan ingatan oleh ibu Reneng dan Anak Agung Raka Saba. Melodi dan gerakan yang sangat khas memperindah keseluruhan tarian yang sangat klasik ini.

Legong Lasem (Kraton)
Legong ini yang paling populer dan kerap ditampilkan dalam pertunjukan wisata. Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong dan seorang condong. Condong tampil pertama kali, lalu menyusul dua legong yang menarikan legong lasem. Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton. Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (abad ke-12 dan ke-13, masa Kerajaan Kadiri), yaitu tentang keinginan raja (adipati) Lasem (sekarang masuk Kabupaten Rembang) untuk meminang Rangkesari, putri Kerajaan Daha (Kadiri), namun ia berbuat tidak terpuji dengan menculiknya. Sang putri menolak pinangan sang adipati karena ia telah terikat oleh Raden Panji dari Kahuripan. Mengetahui adiknya diculik, raja Kadiri, yang merupakan abang dari sang putri Rangkesari, menyatakan perang dan berangkat ke Lasem. Sebelum berperang, adipati Lasem harus menghadapi serangan burung garuda pembawa maut. Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan raja Daha.
Legong Jobog
Tarian ini, seperti biasa, dimainkan sepasang legong. Kisah yang diambil adalah dari cuplikan Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya. Karena ajimat itu dibuang ke danau ajaib, keduanya bertarung hingga masuk ke dalam danau. Tanpa disadari, keduanya beralih menjadi kera., dan pertempuran tidak ada hasilnya.
Legong Legod Bawa
Tari ini mengambil kisah persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu  dalam membanggaklan kekuatan masing-masing. Percakapan mereka pun didengar oleh dewa Siwa. Dewa Siwa menjadi penengah bagi mereka berdua dengan cara berubah menjadi lingga sembari mengajukan syarat barang siapa yang mampu menemukan ujung lingga tersebut, maka ialah yang lebih sakti.
Legong Palayon
Menceritakan kehidupan masa kanak-kanak yang dalam kesehariannya suka bermain, seperti bermain gamelan yang penuh ekspresi dan tanpa beban , selalu ceria dan gembira dalam melakukan aktifitasnya.


Legong Candrakanta
Tari ini mengisahkan pertemuan antara bulan dan matahari sehingga terjadi gerghana bulan yang mengakibatkan dunia menjadi gelap. Setelah masyarakat menghaturkan sesajen, memukul kentongan , serta melantunkan puji-pujian, maka Bulan bersinar kembali seperti sedia kala.
Legong kupu-kupu tarum
Tari Kupu-kupu ini menggambarkan ketentraman dan kedamaian hidup sekelompok kupu-kupu yang dengan riangnya berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain. Tarian ini merupakan tarian putri masal yang diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an.
Legong kuntir

Disebuah goa dekat gunung himawa, hidup seorang raksasa yang sangat sakti bernama Mahesa Sora. Yakin akan kesaktiannya ini maka timbul niatnya untuk menyerang keindraan, dengan dalah melamar Dewi Tara putri Dewa Indra. Dewa Indra yang sudah tentunya tidak setuju atas lamaran raksasa ini, menolak akibatnya terjadi perang antara pihak Mahesa Sora dan pihak keindraan.

Merasa Hyang Indra akan kalah, cepat-cepat ia atas petunjuk pendeta Briaspati minta bantuan Subali dan Sugriwa yang diam di gunung Semi, dengan perjanjian bahwa yang dapat mengalahkan Mahesa Sora akan mendapatkan hadiah Dewi Tara sebagai istri.

Subali, Sugriwa menyanggupi dan segera berangkat keindraan melawan Mahesa Sora. Mahesa Sora yang merasa tidak mampu menghadapi lawannya, segera lari meninggalkan keindraan, bersembunyi di dalam goanya.

Subali, Sugriwa mengejarnya dan Subali masuk kedalam goa, sebelum memasuki goa, dipesankannya kepada adiknya, bahwa jika nanti ada darah merah yang keluar dari goa maka yang mati adalah Mahesa Sora. Dan jika darah putih yang mati adalah Subali sendiri. Dan jika yang keluar darah merah dan putih yang keluar itu berarti kedua-duanya telah tewas maka Sugriwa harus cepat-cepat menutup pintu goa.

Demikianlah akhirnya didalam goa Subali berhasil membunuh raksasa itu dengan memecahkan kepalanya sehingga darah dan otaknya berhamburan keluar yang oleh Sugriwa dikira darah merah dan putih. Segera pintu goa ditutupnya dan pergi ke indra loka untuk mempersunting Dewi Tara.

Tatkala Sugriwa sedang bermesra mesraan di sebuah taman tiba-tiba datanglah Subali yang telah berhasil keluar dari goa dengan jalan menjebol pintu goa. Terjadi pertengkaran akibat salah pengertian yang kemudian memuncak menjadi suatu pertempuran sengit. Sugriwa kalah dan Dewi Tara diambil oleh Subali, dalam kesedihan Sugriwa mengutus Hanuman untuk minta bantuan Sang Rama. Akhirnya atas bantuan Sang Rama, Subali berhasil dikalahkan dan Sugriwa mendapatkan kembali Dewi Tara
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

2 comments

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 kubu-ayey
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top