it's all about anything ting ting

Minggu, 09 Desember 2012

MOBILITAS SOSIAL


Secara leksikal, istilah mobilitas berasal dari bahasa Latin mobilis. Kata mobilis  menunjuk pada pengertian mudah dipindah atau banyak bergerak dari tempat yang satu menuju tempat yang lain. Dari pengertian seperti ini, istilah mobilitas sosial dipandang memiliki pengertian yang sama dengan istilah gerakan sosial atau perpindahan sosial. Gerakan sosial yang dimaksudkan dalam pembahasan ini bukan mengacu pada istilah sosial movement yang cenderung pada pengerahan aksi masa, melainkan mengacu pada istilah social  mobility. Dengan demikian mobilitas sosial dapat diartikan sebagai perpindahan  seseorang atau sekelompok orang dari suatu kelas sosial tertentu menuju kelas sosial yang lain, dari suatu daerah tertentu menuju daerah yang lain.

FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG TERJADINYA MOBILITAS SOSIAL

Seperti yang telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa mobilitas sosial akan selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat. Terjadinya mobilitas sosial tersebut  didorong oleh beberapa faktor, seperti perbedaan status sosial, perbedaan status ekonomi, masa- lah-masalah kependudukan, situasi politik yang tidak menentu, adanya ambisi pribadi, dan motif-motif yang bersifat keagamaan.

SALURAN-SALURAN MOBILITAS SOSIAL VERTIKAL

Sosiolog Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa proses mobilitas sosial vertikal memi- liki beberapa saluran penting, yaitu:

(1) perkawinan
(2) organisasi politik, ekonomi, dan keahlian
(3) lembaga pendidikan
(4) lembaga keagamaan
(5) angkatan bersenjata.

AKIBAT-AKIBAT MOBILITAS SOSIAL

1. Konflik Antar Kelas Sosial Belakangan ini sering terdengar berita tentang demonstrasi. Di antara  demonstrasi tersebut ada yang digalang untuk kepentingan menolak kepemimpinan seseorang, ada juga yang digalang untuk menuntut kenaikan upah dan perbaikan kesejahteraan kepada pimpi- nan perusahaan, dan lain sebagainya. Pada dasarnya demonstrasi tersebut merupakan ben- tuk-bentuk konflik antar kelas sosial , yakni antara kelas sosial bawah berhadapan dengan kelas sosial atas. Konflik seperti itu terjadi karena berkembang ketidakseimbangan yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan individu maupun kelompok sehubungan dengan adanya perubahan dalam kehidupan sosial.

2. Konflik Antar Kelompok Sosial Konflik antar kelompok sosial merupakan konflik yang melibatkan antara kelompok sosial yang satu dengan kelompok sosial yang lain yang setingkat. Konflik tersebut terjadi karena adanya ketidakkeseimbangan dalam kehidupan sosial sebagai akibat dari berkem- bangnya situasi dan kondisi baru. Bangsa kita yang memiliki ratusan suku bangsa sangat rentan bagi terciptanya konflik antar kelompok sosial. Seperti yang terjadi di Kalimantan yang melibatkan antara pendatang Madura dengan Suku Dayak dan Melayu. Demikian juga yang terjadi di Maluku yang melibatkan antara kelompok Islam dengan kelompok Kristen. Hal serupa juga sering terjadi di tempat lain seperti tawuran antar pelajar, tawuran antar kampung, dan lain sebagainya. Konflik-konflik seperti tersebut sedapat mungkin harus di- hindari dengan melakukan pendekatan-pendekatan soaial dan kebudayaan sehingga antara satu dengan yang lainnya terjalin sikap saling memahami, saling menghormati, saling menghargai, dan saling membina kerukunan hidup bersama. Sikap seperti ini telah ditanamkan sejak zaman dahulu kala oleh nenek moyang bangsa Indonesia, seperti yang tertuang dalam Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular: “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi Satu Jua).

3. Konflik Antar generasi Konflik antar generasi merupakan konflik yang melibatkan antara generasi tua dengan generasi muda. Biasanya terjadinya konflik tersebut diawali dengan naiknya generasi muda dalam posisi dan jabatan tertentu yang mengambil alih kedudukan generasi tua. Konflik antar generasi akan semakin menjadi-jadi jika masing-masing pihak mengembangkan sikap yang kontradiktif. Generasi muda beranggapan bahwa generasi tua berpikir lamban, kuno, dan terbelakang. Sementara generasi tua beranggapan bahwa generasi muda tidak mengerti tata krama dan bersikap angkuh. Sikap-sikap seperti tersebut merupakan sikap negatif yang harus dihilangkan. Selanjutnya harus dikembangkan sikap baru bahwa setiap generasi merupakan rangkaian kesinambungan dalam sejarah hidup manusia. Masing-masing generasi harus menempatkan dirinya dengan baik sambil melakukan langkah-langkah penyesuaian terhadap situasi baru dan sekaligus berusaha menciptakan situasi yang lebih baik bagi seluruh generasi.

4. Konflik Status dan Konflik Peran Pada dasarnya antara status dan peran tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika status merupakan bentuk statis (pasif), maka peran merupakan bentuk dinamis (aktif). Jika sese- orang memiliki status lebih dari satu, sesecara otomatis juga akan memiliki peran lebih dari satu. Konflik status dan konflik peran akan terjadi jika masing-masing status yang melekat pada diri seseorong harus diperankan dalam waktu yang bersamaan.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Kubu-Ayey
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top